Indeks
Harga Saham Gabungan atau yang lebih dikenal dengan IHSG, tentu menjadi
sebuah istilah yang akrab di telinga sebagian masyarakat. Terlebih bagi
para investor pasar saham.
Namun, tak banyak yang mengetahui
komponen apa saja yang menjadi pembentuk nilai IHSG. Padahal, IHSG
sering dijadikan acuan guna melihat respresentasi pergerakan pasar saham
secara keseluruhan.
Gambaran mengenai komponen-komponen pembentuk
IHSG serta faktor-faktor apa saja yang membuat IHSG berubah-ubah
seiring terjadinya transaksi di lantai bursa.
Pertama-tama akan
dihadirkan metode-metode yang umumnya digunakan untuk menyusun indeks
saham. Secara umum, ada dua jenis rumusan untuk membentuk indeks saham.
Pertama rumus atau metode yang dikenal dengan nama Weighted Average. Rumusnya adalah (Sigma)PxQ/Nd kemudian dikali dengan 100.
P
adalah harga saham di pasar reguler. Q adalah bobot saham (jumlah saham
yang tercatat di Bursa Efek Indonesia). Nd adalah nilai dasar, yaitu
nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham yang tercatat di BEI yang
masuk dalam daftar penghitungan indeks.
Nilai dasar bisa berubah jika ada aksi korporasi yang menyebabkan jumlah saham berkurang atau bertambah.
Sederhananya,
setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasar. Kemudian
dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar per saham atas saham-saham yang
diperhitungkan dalam indeks, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian
dikalikan dengan 100.
Nah, kapitalisasi pasar per saham yang di
total ini berbeda dengan nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI,
karena ada saham-saham yang tidak perhitungkan dalam penghitungan
indeks.
Saham-saham yang tidak diperhitungkan ini menjadi rahasia
BEI. Pihak BEI memiliki kriteria sendiri atas saham-saham yang bisa
dimasukkan dalam penghitungan IHSG.
Jadi boleh dibilang, IHSG
merupakan nilai representatif atas rata-rata harga seluruh saham di BEI
berdasarkan jumlah saham tercatat. Itulah kenapa disebut sebagai
Weightened Average nilai harga rata-rata terhadap bobot atau jumlah
saham.
Rumus kedua adalah apa yang disebut sebagai Average.
Penghitungannya mirip dengan rumus pertama. Hanya saja, tidak memasukkan
bobot atau jumlah saham tercatat dalam penghitungan. Rumusnya adalah
(Sigma)P/Nd dikali 100.
Metode ini dipakai oleh indeks saham
industri Dow Jones (Dow Jones Industrial Average/DJIA). Alasan indeks
ini tidak memasukkan bobot sebagai pengali harga saham karena DJIA
merupakan indeks 30 saham terpilih di bursa New York.
Sebanyak 30
saham yang masuk dalam DJIA diasumsikan telah memiliki bobot yang
setara, sehingga penghitungan bobot dianggap tidak perlu lagi. Sebagai
catatan, 30 saham ini boleh dibilang mewakili setiap industri di Amerika
Serikat (AS) dan memiliki likuiditas transaksi yang tinggi.
Kalau
boleh disamakan, indeks LQ45 memiliki karakter yang mirip dengan DJIA,
meskipun rumus penghitungan yang dipakai tetap sama seperti rumus yang
dipakai dalam menghitung IHSG.
Nah, sekarang akan dibahas mengenai
faktor-faktor apa saja yang membuat level IHSG bergerak naik atau
turun. Pertama tentunya harga saham. Namun tidak hanya itu.
Kenaikan
atau penurunan tajam harga satu saham memang berpengaruh terhadap
pergerakan IHSG. Namun seberapa besar kenaikan itu mempengaruhi IHSG
tergantung pada bobot saham tersebut.
Jadi sederhananya, kenaikan
atau penurunan IHSG sangat bergantung pada pergerakan saham-saham
berkapitalisasi besar. Berangkat dari sinilah kemudian muncul beberapa
saham yang disebut-sebut sebagai motor penggerak IHSG.
Sebut saja
saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Saham ini memiliki saham
tercatat mencapai 20,159 miliar saham. Dengan harga saat ini sebesar Rp
8.700, maka kapitalisasi pasar TLKM mencapai Rp 175,383 triliun.
Nilai
itu mencapai 10% dari total nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di
BEI yang masuk dalam penghitungan IHSG. Kapitalisasi pasar BEI saat ini
sekitar Rp 1.700 triliun. Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu,
kenaikan atau penurunan harga sebesar Rp 50 poin saja akan memberikan
pengaruh pada level IHSG.
Saham TLKM memang tercatat sebagai saham
dengan kapitalisasi terbesar di BEI. Lain halnya dengan saham PT Bakrie
& Brothers Tbk (BNBR). Saham BNBR yang tercatat di BEI mencapai
93,721 miliar saham, jauh lebih besar dari TLKM.
Akan tetapi,
harga saham BNBR saat ini sebesar Rp 127 yang berarti nilai kapitalisasi
pasar BNBR sebesar Rp 11,902 triliun. Angka tersebut tidak sampai 1%
dari kapitalisasi pasar BEI.
Jadi, meskipun BNBR mengalami
kenaikan harga atau penurunan harga sebesar 35% pun tidak akan memberi
pengaruh besar terhadap perubahan level IHSG. Lain halnya jkalau suatu
saat harga saham BNBR mencapai Rp 5.000, dapat dipastikan kenaikan atau
penurunan tipis harga saham BNBR akan memberi pengaruh besar pada level
IHSG.
Oleh sebab itu, jika level IHSG naik tajam, dapat dipastikan
hal itu didorong oleh kenaikan harga-harga saham berkapitalisasi besar
atau yang lebih dikenal sebagai Big Cap. Jadi wajar saja, kalau saham
TLKM naik tajam, level IHSG pun akan terkerek naik secara tajam pula.
Kelemahan
penghitungan ini adalah karena rumus ini memasukkan saham-saham yang
kurang aktif diperdagangkan serta memasukkan faktor bobot atau jumlah
saham secara keseluruhan dalam penghitungannya.
Contohnya, saham
TLKM hanya ditransaksikan sebanyak 1 lot dan mengalami kenaikan sebesar
Rp 300 hari ini. Kapitalisasi pasar yang terbentuk mewakili seluruh
20,159 miliar saham TLKM. Jadi level IHSG sudah pasti akan terangkat.
Dan
metode ini ikut memasukkan saham-saham yang kurang aktif
diperdagangkan, malah terkadang tergolong saham tidur. Ini akan
memangkas representasi pasar IHSG secara riil, karena saham-saham yang
tidak ditransaksikan ikut dimasukkan dalam penghitungannya.
Kendati demikian, BEI menganggap metode yang dipakai ini sudah cukup mewakili pergerakan seluruh saham harian di lantai bursa.
Sumber : detikfinance.com
Hallo bang Hendy. Salam kenal. Ternyata sama-sama blogger juga. Hehe
BalasHapusKunjungi http://accounting-media.blogspot.com